Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Semoga dengan mengunjungi blog ini dapat menambah pengetahuan bagi kita semua. Amiiin.

Selasa, 11 Juni 2013

Budaya Organisasi

Pengertian Budaya Organisasi




     Dalam buku Handbook of Human Resource Management Practice oleh Michael Armstrong pada tahun 2009, budaya organisasi atau budaya perusahaan adalah nilai, norma, keyakinan, sikap dan asumsi yang merupakan bentuk bagaimana orang-orang dalam organisasi berperilaku dan melakukan sesuatu hal yang bisa dilakukan. Nilai adalah apa yang diyakini bagi orang-orang dalam berperilaku dalam organisasi. Norma adalah aturan yang tidak tertulis dalam mengatur perilaku seseorang.

     Pengertian di atas menekankan bahwa budaya organisasi berkaitan dengan aspek subjektif dari seseorang dalam memahami apa yang terjadi dalam organisasi. Hal ini dapat memberikan pengaruh dalam nilai-nilai dan norma-norma yang meliputi semua kegiatan bisnis, yang mungkin terjadi tanpa disadari. Namun, kebudayaan dapat menjadi pengaruh yang signifikan pada perilaku seseorang. Berikut adalah beberapa pengertian dari budaya organisasi:
 •Budaya organisasi mengacu pada hubungan yang unik dari norma-norma, nilai-nilai,                  kepercayaan dan cara berperilaku yang menjadi ciri bagaimana kelompok dan individu              dalam menyelesaikan sesuatu.
•Budaya merupakan sistem aturan informal yang menjelaskan bagaimana seseorang                   berperilaku dalam sebagian besar waktunya.
•Budaya Organisasi adalah sebuah pola asumsi dasar yang diciptakan, ditemukan atau                 dikembangkan oleh suatu kelompok tertentu sebagai landasan dalam  berperilaku dalam            organisasi. Dimana akan diturunkan kepada anggota baru sebagai cara bagaimana melihat,       berpikir, dan merasa dalam organisasi.
 •Budaya adalah keyakinan, sikap dan nilai-nilai yang dipegang dan ada dalam sebuah                   organisasi.

   Budaya itu sulit untuk didefinisikan karena memiliki struktur yang multidimensi dengan komponen yang berbeda pada setiap tingkat. Budaya juga bersifat dinamis dan selalu berubah dan menjadi relatif stabil pada jangka waktu yang singkat. Perlu waktu dalam merubah suatu budaya terutama dalam budaya organisasi.
  
  Budaya merupakan alat perekat sosial dan menghasilkan kedekatan, sehingga dapat memperkecil diferensiasi dalam sebuah organisasi. Budaya organisasi juga memberikan makna bersama sebagai dasar dalam berkomunikasi dan memberikan rasa saling pengertian. Jika fungsi budaya ini tidak dilakukan dengan baik, maka budaya secara signifikan dapat mengurangi efisiensi organisasi.

Level Budaya Organisasi

          Edgar H. Schein (1985) melukiskan budaya organisasi dalam 3 level. Ketiga level tersebut adalah :
Level 1 Artefak
       Level ini merupakan dimensi yang paling terlihat dari budaya organisasi, merupakan lingkungan fisik dan social organisasi. Pada level ini, orang yang memasuki suatu organissi dapat meihat dengan jelas banguna, output, teknologi, bahasa tulisan dan lisan, produk seni dan perilaku anggota organisasi.
Level 2 nilai – nilai
          Semua pembelajaran organisasi merefleksikan nilai – nilai anggota organisasi, perasaan mereka mengenai apa yang seharusnya berbeda dengan apa yang adanya. Jika anggota organisasi menghadapi persoalan atau tugas baru, solusinya adalah nilai – nilai. Nilai – nilai tersebut dapat dites dalam lingkungan fisik dan dapat dites melalui consensus.
Level 3 Asumsi Dasar
          Asumsi dasar yaitu: hubungan dengan lingkungan, sifat realitas, waktu dan ruang, karakteristik sifat manusia, sifat aktivitas manusia, sifat dari hubungan antar manusia.

FUNGSI BUDAYA ORGANISASI
Batas
Budaya berperan sebagai penentu batas-batas; artinya, budaya menciptakan perbedaan atau yang membuat unik suatu organisasi dan membedakannya dengan organisasi lainnya.
Identitas
Budaya memuat rasa identitas suatu organisasi.
Komitmen
Budaya memfasilitasi lahirnya komitmen terhadap sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan individu.
Stabilitas
Budaya meningkatkan stabilitas sistem sosial karena budaya adalah perekat sosial yang membantu menyatukan organisasi dengan cara menyediakan standar mengenai apa yang sebaiknya dikatakan dan dilakukan karyawan.
Pembentuk sikap dan perilaku
Budaya bertindak sebagai mekanisme alasan yang masuk akal (sense-making) serta kendali yang menuntun dan membentuk sikap dan perilaku karyawan. Fungsi terakhir inilah yang paling menarik. Sebagaimana dijelaskan oleh kutipan berikut, budaya mendefinisikan aturan main:
Dalam definisinya, bersifat samar, tanmaujud, implisit, dan begitu adanya. Tetapi, setiap organisasi mengembangkan sekmpulan inti yang berisi asumsi, pemahaman, dan aturan-aturan implisit yang mengatur perilaku sehari-hari di tempat kerja... Hingga para pendatang baru mempelajari aturan, mereka tidak diterima sebagai anggota penuh organisasi. Pelanggaran aturan oleh pihak eksekutif tinggi atau karyawan lini depan membuat publik luas tidak senang dan memberi mereka hukuman yang berat. Ketaatan pada aturan menjadi basis utama bagi pemberian imbalan dan mobilitas ke atas.  "

SUMBER BUDAYA ORGANISASI
          Budaya organisasi dipengaruhi oleh 4 faktor, yaitu :
(1) pengaruh umum dari luar yang luas
Mencakup factor – factor yang tidak dapat dikendalikan oleh  organisasi, seperti lingkungan alam dan kejaian – kejadian bersejarah yang membentuk masyarakat.
(2) pengaruh dari nilai – nilai yang ada di masyarakat
Keyakinan dan nilai – nilai yang dominan dari masyarakat yang luas.
(3) factor – factor spesifik dari organisasi
Organisasi selalu berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam usaha mengatasi baik masalah eksternal maupun internal organisasi akan mendapatkan penyelesaian – penyelesaian yang berhasil.
(4) nilai – nilai dari kondisi dominan
Penyelesaian yang merupakan ungkapan dari nilai – nilai dan keyakinan – keyakinan. Keberhasilan mengatasi masalah tersebut merupakan dasar bagi tumbuhnya budya organisasi.

MENCIPTAKAN DAN MEMPERTAHANKAN BUDAYA ORGANISASI
          Isu dan kekuatan suatu budaya mempengaruhi suasana etis sebuah organisasi dan perilaku tis para anggotanya. Budaya sebuah organisasi yang mempunyai kemungkinan paling besar untuk membentuk standard an etika tinggi adalah budaya yang tinggi toleransinya terhadap resiko tingi,rendah, sampai sedang dalam hal keagresifan, dan focus pada saran selain juga hasil. Menejemen dapat melakukan beberapa hal dalam menciptakan budaya yang lebih etis.

Sumber :
id.wikipedia.org

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Daftar Isi